Selasa, 07 April 2009

Situ Gintung, antara faedah dan musibah (Dimuat di harian Solopos 31 Maret 2009)


Situ, berasal dari bahasa sunda dan mempunyai arti lain danau. Manfaat dibangunnya situ (danau) adalah menyediakan air untuk irigasi atau penyediaan air di perkotaan, meningkatkan navigasi, menghasilkan tenaga hidroelektrik, menciptakan tempat rekreasi atau habitat untuk ikan dan hewan lainnya, pencegahan banjir dan menahan pembuangan dari tempat industri seperti pertambangan atau pabrik (Wikiwedia Bahasa Indonesia). Namun tidak semua danau buatan mempunyai semua manfaat seperti tersebut di atas. Belanda membangun situ gintung, awalnya hanya untuk menampung air hujan dan menyediakan air bagi ladang pertanian di sekitarnya. Sejalan dengan perkembangan waktu, fungsi itu bertambah menjadi tempat wisata alam dan air. Bagaimana bisa menjelaskan, sebuah bangunan konservasi air yang semula dianggap memberikan faedah bisa berubah menjadi penyebab musibah?


Konstruksi situ gintung yang terbuat dari urugan tanah, bukan merupakan faktor utama penyebab jebolnya tanggul. Intensitas hujan yang cukup tinggi selama selama 3 hari berturut turut serta volume air yang tertampung di dalam situ dalam waktu singkat sudah melebihi daya tampung, maka saluran pelimpas (pintu air) yang hanya selebar 5 meter, tidak cukup mampu mengeluarkan air yang ada di dalam situ. Faktor alam, terkadang menjadi kambing hitam dari suatu bencana yang terjadi. Namun kesalahan manusia, bukannya tidak ada. Dimana fungsi pengawasan dari pemerintah selama ini ? Tidak hanya instansi yang menangani masalah air, namun instansi yang menangani kependudukan dan tata ruang juga turut bertanggung jawab. Kejadian terbakarnya depo pertamina di Plumpang beberapa waktu lalu, juga memunculkan pertanyaan, kelayakan dan keamanan sebuah bangunan yang berpotensi bahaya bisa begitu dekat berdampingan dengan pemukiman padat penduduk. Situ atau waduk atau bangunan lainnya yang berpotensi menimbulkan bahaya tentu mempunyai jarak aman tertentu atau radius bebas dalam jarak tertentu dari pemukiman, namun karena kebutuhan manusia akan perumahan maka faktor keselamatan menjadi diabaikan.

Ada hal yang menarik, tercatat 99 orang meninggal dan 126 lainnya dilaporkan hilang (Solopos 30 Maret 1999). Masyarakat yang mendiami, rumahnya berhimpitan persis dengan tanggul justru bisa selamat sedangkan lainnya tidak menyadari karena kebanyakan masih terlelap dalam tidur. Tanggulnya jebol tidak terjadi secara tiba-tiba, namun dini hari, masyarakat yang mendiami tepat di sisi tanggul sudah merasa ada indikasi tanggul akan jebol. Ada selang waktu sekian jam, hal ini dimanfaatkan masyarakat untuk menyelamatkan diri. Kearifan lokal yang terlupakan adalah ketika akan ada suatu bencana, masyarakat dahulu biasanya membunyikan kentongan, hal ini untuk memberitahukan yang lain agar bersiap atau waspada. Sistem kentongan sebagai alat komunikasi tradisional sudah dilupakan dengan hadirnya alat komunikasi modern. Budaya kentongan sebagai sistem peringatan dini sebenarnya bisa meminimalisir jumlah korban jiwa. Namun kuasa sang pencipta tidak ada yang bisa menghalangi dan menghentikan.



Bagaimana dengan Waduk Gajah Mungkur ?

Waduk dengan luas 8.800 ha di Kabupaten Wonogiri ini dibangun pada tahun akhir tahun 1970 dan beroperasi tahun 1978, diperkirakan mampu berumur 100 tahun. Kedalaman waduk yang semula 24 meter, saat ini hanya tinggal 16 meter. Diduga, tingginya tingkat sedimentasi menyebabkan fungsi waduk menjadi kurang optimal serta umur waduk menjadi pendek. Upaya mencegah pendangkalan dengan cara pengerukan tidak mampu mengimbangi laju sedimentasi yang demikian cepat. Rehabilitasi lahan di bagian hulu yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah serta masyarakat secara swadaya tetap belum bisa mengurangi tingginya laju sedimentasi. Faktor jenis tanah yang peka terhadap erosi juga turut mempengaruhi, disamping perilaku manusia yang kurang peduli terhadap pengelolaan lahan secara benar dan baik, turut andil memperparah kondisi.
Di saat intensitas hujan sedikit saja, pintu air sudah harus dibuka, dan bisa ditebak, wilayah hilir yaitu Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik menjadi banjir, masih ditambah dengan luapan anak Bengawan Solo yaitu Bengawan Madiun yang berhulu di Lereng Lawu, di beberapa titik wilayah solo juga merasakan dahsyatnya luapan air Bengawan Solo.
Sudah ada beberapa kajian untuk menangani banjir, baik di wilayah solo maupun di wilayah hilirnya, diantaranya yaitu dengan pembangunan dam atau waduk di beberapa titik sepanjang aliran sungai bengawan solo, sehingga limpasan atau tumpahan air dari Waduk Gajah Mungkur masih dapat ditahan di waduk-waduk buatan tadi dan tidak langsung menuju hilir. Mengurangi konsentrasi genangan air di pemukiman dengan cara membangun polder polder penampung air juga salah upaya mencegah banjir khususnya di wilayah solo.
Waduk sebagai bangunan konservasi air, hanyalah merupakan salah satu cara untuk mengurangi resiko dan potensi banjir. Banyak faedah dapat diambil darinya namun musibah juga bisa terjadi apabila tidak dikelola secara arif dan bijaksana. Akankah kita menunggu Waduk Gajah Mungkur menjadi seperti Situ Gintung ? Wallahu’alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar